Mawaddah

If you want to get something that you never own, you must do something that you never done before ^^v

Instagram

    Instagram

Doa

    "Allah Yusahhil Lanaa..amiinn" ^^

Blog Mawaddah

GOLPUT?

diposting oleh mawaddatulkarimah-fst12 pada 09 April 2014
di Issue - 1 komentar

Hari ini, tepatnya 09 April 2014 sepertinya demam PILEG (pilihan legislatif). Bagi saya juga demam pilek (curhat dikit :D )

Selamat mencoblos bagi yang mencoblos dan selamat tidak mencoblos untuk para golputer -_-

Dari sudut pandang orang yang tidak golput

Golput alias golongan putih alias lagi surat suaranyaa kosong blong tanpa celah coblosan atau bahkan mungkin tidak menghadiri TPU karena beragam alasan, karena sakit sehingga tak mampu berjalan (ini golput yang masuk kategori dimaklumi). Ada macam golput yang kurang dimaklumi (meski pada dasarnya memilih itu adalah hak pribadi masing-masing) yaitu golput karena merasa para calonnya yang sudah bertengger di surat suara tidak sesuai selera, kurang pas lah intinya. Dengan satu alasan itu, segelintir orang akan berdalih membela dirinya ketika memilih golput, "calon pemimpinnya nggak ada yang pas". Mari kita berpikir sejenak, ketika seseorang membenarkan dirinya yang golput kemudian mempengaruhi keluarganya dengan berbagai macam alasan yang menjatuhkan. Salah satu keluarganya mempengaruhi temannya. Temannya cerita kepada temannya yang lain yang sedang berkumpul. Dari komunitas satu ke komunitas lain sehingga golput sudah tak tertolongkan maraknya. Ketika hal itu terjadi di berbagai belahan Indonesia, ratusan bahkan ribuan suara raib sudah. Kesempatan untuk memberikan amanah pengabdian negara sudah tak ada, yang ada hanya untuk menunggu pujian dan cercaan kepada pemimpin yang jadi nantinya. Ketika sudah jadi dan amanah, komentarnya, "Bagus. Gini rah jadi pemimpin itu."

Ketika ada masalah dengan yang jadi, komentarnya, "Nah kan, untung aku golput. Sopo seng ngongkon milih wong iku."

Berikut mengutip dari teman yang kritisi politik, "Rakyatmu memberi kursi sebagai gantinya kau hadiahi mereka janji dan tahta hanya sebagai praktik korupsi."

Kesan yang ditangkap dari kata-kata ini seakan memblok semua pemimpin bahwa akan korupsi dan bertindak kriminal lainnya. Kemana negara akan dibawa ketika sudah tidak ada rasa saling percaya?

Kalau sebagian rakyat ini berpikiran seperti itu, saling menyalahkan maka akan semakin merosot saja karakternya dalam mempertahankan keutuhan Indonesia.

Dari sudut pandang orang yang golput

Calon pemimpin zaman sekarang tidak bisa menepati janji-janjinya, ini sudah banyak terjadi dimana-mana. Tidak asing lagi kasus-kasus yang kian marak apalagi l*gi*latif yang ketika rapat kursinya kosong blong, kemana mereka padahal gajinya tidak berkurang? Pemimpin sekarang menjadikan sebuah amanah seperti matapencaharian, dengan berkedokkan uang dan sembako diawal.

Berikut mengutip dari teman yang kritisi politik, "Rakyatmu memberi kursi sebagai gantinya kau hadiahi mereka janji dan tahta hanya sebagai praktik korupsi."

Benar sekali kata-kata diatas, disokong dengan berbagai amanah melalui janji-janjinya sendiri malah memakan uang negara. Pantas saja jalan-jalan banyak yang rusak karena bahan yang dipakai termasuk jelek, why? "karena ngapain beli mahal-mahal, ntar bagianku mana dong?" Daripada salah pilih, mending aku golput saja. Hidup golput!

Dari sudut pandang saya sendiri

Calon pemimpin yang sudah berada di surat suara adalah orang-orang siap dengan pengabdiannya kepada negara. Untuk bisa mengabdi, tentunya butuh dukungan dari rakyat karena nantinya pengabdian itu kembali kepada rakyat. Ketika mereka terpilih menjadi pemimpin, rasa memikul amanah itu pasti ada. Namun, di tengah jalan ketika memimpin sangat banyak cobaan, mulai dari godaan-godaan anggaran dan lain sebagainya. Pada saat itulah kesadaran hati terhadap amanah dari masing-masing pemimpin itu sangat berperan. Ketika hal yang paling tak diinginkan terjadi, pihak yang berwenang akan mendapatkan amanah untuk mengadili. Dalam menjalankan amanah mengadili juga penuh cobaan, sehingga kesadaran hati nurani sangat diperlukan. Kita sebagai rakyat mempunyai hak untuk meminta keadilan, bisa melalui demo yang sehat tanpa kericuhan.

 

Mari senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Dikutip dari kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali, "Semakin tinggi posisi seseorang namun hatinya jauh dari Allah maka orang tersebut termasuk orang yang celaka."

1 Komentar

ferninda

pada : 17 April 2014


"Aku ga golput kok mbak.. :D"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :